JAKARTA - Tata Kota Depok saat ini yang semakin padat menyebabkan fungsi-fungsinya sebagai daerah resapan air terus berkurang. Ditambah areal perkebunan dan yang semakin berkurang. Sementara itu, dilain pihak pembangunan kawasan perumahan atau residensial terus bertambah, dan bangunan mal juga apartemen makin marak.
Demikian dikatakan oleh ahli tata kota sekaligus dosen Planologi Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna, kepada okezone, saat diwawancarai mengenai perkembangan Kota Depok, Kamis (26/1/2012).
Hal lain yang patut menjadi sorotan utama pemerintah untuk memajukan Depok adalah perbaikan dan pembangunan infrastruktur yang memadai. Seperti perbaikan dan penataan stasiun Depok, dan pasar kenari serta percepatan pembangunan jalan tol untuk beberapa jalur yang saat ini belum juga terealisasi. Seperti jalut tol cinere-Jagorawi, dan Antasari-Depok.
Sebelum membangun kawasan bisnis dan perkantoran juga perlu dilihat jenis kebutuhan seperti apa yang ditawarkan dan akan menguntungkan atau tidak. Investor tentu akan menilai dari sisi yang mendatangkan profit bagi mereka.
Untuk bisa lebih maju, Depok harus bersaing dengan kawsan sub-urban lainnya seperti Bogor, Bekasi, dan Tangerang selatan. Dari sini dilihat apa yang bisa ditawarkan kota Depok selain bangunan-bangunan, apakah terdapat daerah rekreasi, wisata kuliner dan industri krteatif.
"Sarannya untuk tata kota Depok yang lebih baik, janganlah membangun perumahan secara sporadis. Perbaikan infrastruktur harus segera direalisasikan. Agar nantinya orang yang mau datang dan berbisnis di Depok tidak terkendala masalah transportasi karena jalur menuju Depok dari Jakarta yang terasa jauh dan tidak nyaman," pungkasnya.
(rhs)