JAKARTA - Saat ini memang sedang marak pembangunan bidang properti yang mengusung konsep hijau. Hal ini, malah menjadi tren baru yang sangat berpengaruh dalam gaya hidup masyarakat.
Namun, ternyata Arief Budiman memiliki pendapat tersendiri mengenai isu hangat dalam dunia arsitektur ini. Lantas bagaimana tren properti menurutnya?
Berikut lanjutan wawancara khusus dengan Arief Seperti yang dipaparkannya saat dihubungi okezone melalui sambungan telepon di Jakarta, belum lama ini.
Jenis-jenis proyek yang sudah Anda kerjakan di luar negeri apa saja?
Variatif, dari proyek terkecil hingga yang skala besar. Saya bersyukur diberikan kesempatan oleh Allah untuk dapat bekerja dari biro skala besar, medium sampai kecil dengan range proyek mulai dari bangunan besar sampai interior dan desain furnitur.
Menurut Anda, untuk tren arsitektur ke depan seperti apa?
Arsitektur itu menurut saya bukanlah tren tapi solusi atas permintaan klien dan lokasi proyek itu sendiri yang sangat variatif. Kita memang bergerak dalam industri jasa, tapi kita bukan seperti restoran cepat saji.
Maksudnya?
Saya menentang proses berasitektur seperti restoran cepat saji. Seperti sebuah restoran yang menawarkan paket paket arsitektur berlabel langgam arsitektur seperti minimalis padahal kita sama-sama tahu kalau minimalis bukanlah sebuah gaya arsitektur tapi adalah juga terletak dalam proses. Atau menjual label green design, dengan hanya bermodal hijau tapi tidak bisa diregenerasikan.
Hal ini yang membuat saya sangat kagum dengan arsitek-arsitek Indonesia, sebutlah salah satu idola saya, bapak Ridwan Kamil dengan rumah botolnya. Bagi saya itu bukanlah sebuah tren, tapi lagi-lagi sebuah solusi dari arsitek atas isu-isu yang ingin dia angkat. Masih banyak lagi arsitek-arsitek Indonesia senior, maupun arsitek muda Indonesia yang saya kagumi karena seperti kita ketahui bahwa perkembangan dunia aristektur kita sangat pesat beberapa tahun ini.
Untuk green architecture sendiri, bagaimana menurut Anda?
Green architecture bagi saya masih terlalu mahal. Belum lagi susah untuk meyakinkan orang untuk mau menambah biaya bahkan demi kebersinambungan bangunannya nanti. Sebutlah semua teknologi yang kita punya saat ini, solar panel, rain water harvesting, dan lain-lain, masih terlalu mahal. Dan justru di sini kreatifitas si arsitek diuji untuk menemukan solusi green architecture yang lebih sederhana.
Mau tahu contoh paling sederhana? Terapkan diproses kerjanya, dimulai dari membiasakan memakai kertas daur ulang. Untuk diskusi desain, biasakan pakai kertas yang sudah terpakai dan lain-lain. Buat saya, itu juga termasuk dalam proses green architecture.
Lantas, apa konsep green architecture menurut Anda?
Yang pasti bukan sebuah bahasa marketing. Green architecture juga bukan sebuah hasil akhir arsitektur, tapi lebih bersifat proses. Dari tahap pengerjaan, sampai tahap setelah bangunan itu sendiri sudah beroperasi. (rhs)