DESAINER interior yang berbasis di Chicago, Alyssa Hoinkes, mengaku pernah menemukan pengantin baru yang berseteru dalam memilih seprei dan drapery untuk kamar tidur mereka.
"Tiap kali salah satu dari mereka menyukai sesuatu,yang lain menolaknya tanpa alasan yang jelas," kata dia. "Misalnya, setelah istri memilih pola bunga,sang suami berteriak bahwa dia tidak ingin hidup di taman. Saat sang suami menunjuk pilihan pada pola gelombang air laut, sang istri menyahut kalau dia tidak ingin hidup di atas perahu," cerita Hoinkes. Sebagai solusi, dia mencari motif seprei gabungan antara gambar bunga kurang formal dan garis-garis air laut.
Pasangan suami-istri itupun tersenyum puas. "Gaya kamar yang mereka sepakati terlihat seperti desain cottage ala New England," kata Hoinkes. "Dengan furnitur bergradasi putih, pinstripes biru dan motif bunga yang lebih berani. Ini adalah contoh sebuah kompromi besar. Tidak terlalu feminin, tapi terlihat seperti desain dengan nuansa laut," imbuhnya.
Desainer interior Jayne Pelosi menemukan cara untuk membantu pasangan mengidentifikasi tumpang tindih selera mereka dan mengembangkan gaya yang dinikmati bersama dengan pasangan hidup sehingga keduanya bahagia tinggal bersama.
"Saya memberi tahu pasangan untuk menemukan empat atau lima buku yang menggambarkan gaya tertentu, seperti craftsman, country, retro, Zen, dan tradisional. Setelah itu,dengan nada yang tidak menghakimi, kami hanya membolakbalik halaman buku dan saling berbagi gaya apa yang paling menarik buat masingmasing," tuturnya.
Pelosi lantas meminta suami, termasuk dirinya, untuk menulis kolom dalam sebuah kertas yang isinya "saya bisa hidup dengan ini" dan "saya tidak suka dengan ini". Latihan ini membantu salah seorang klien Pelosi yang berseteru dengan pasangan soal dekorasi rumah, misalnya ketika sang istri cinta dengan gaya country, sedangkan sang suami membencinya.
"Mereka akhirnya menemukan bahwa suami klien saya itu cinta dengan ayam peliharaannya dan menjauhkan kain motif kotak yang dia tidak bisa tolerir. Ketika sang suami melihat buku dan memilih furnitur gaya Shaker, daripada perabotan era Early American yang seharusnya istri pilih, keduanya menyadari telah berhasil menemukan gaya berdua," ungkap Pelosi.
Potongan Shaker yang bersih akan berbaur mulus dengan gaya country sang istri, dengan sedikit memberi dan menerima. "Sang istri akhirnya menyerah tidak menggunakan kain motif kotak, diubah menjadi kain Prancis yang lebih cerah dan ceria.Motif ayam diganti dengan pot kopi antik dan jam, kaleng untuk menyiram, serta objek lain dengan bentuk yang lebih sederhana," katanya.
"Pasangan ini sangat senang karena bukan hanya rumah mereka yang menemukan kepribadian baru, tapi keduanya juga menyadari bahwa di antara mereka ternyata ada banyak persamaan," pungkas Pelosi.
(Rendra Hanggara/Koran SI)
(NJB)