HONG KONG - Harga properti di Hong Kong berpeluang turun hingga 20 persen. Prediksi ini muncul setelah pemimpin baru di kota tersebut, Leung Chun Ying meningkatkan pasokan rumah mulai bulan ini.
Harga rumah diperkirakan turun mulai bulan ini hingga Juni 2013. Laporan yang ditulis oleh analis Deutsche Bank Tony Tsang dan Jason Ching pada bulan lalu menyatakan hal tersebut.
"Pilar-pilar pendukung dari pasar perumahan selama dua tahun terakhir melemah. Kami berharap pasar properti Hong Kong akan memasuki era baru, yang ditandai oleh dinamika pasokan yang normal," tulis laporan mereka seperti dilansir Bloomberg, Rabu (11/7/2012).
Harga rumah di Hong Kong meningkat sekitar delapan persen sepanjang tahun ini, yang merupakan perpanjangan keuntungan sejak 2009 sebesar 80 persen, dan kemudian melambat pada paruh kedua 2011.
Leung Chun Ying menyatakan niatnya untuk menjembatani kesenjangan kekayaan yang semakin menganga dan mengendalikan harga rumah karena banyak yang tidak terjangkau oleh warga Hong Kong.
Kombinasi dari suku bunga KPR yang rendah akibat masuknya pembeli dari tempat lain di China, dan kurangnya pasokan rumah baru telah memicu kenaikan harga real estat selama beberapa tahun terakhir.
Pada 2004, melalui pemimpin sebelumnya, Hong Kong pernah menghentikan penjualan tanah untuk mendukung agar harga rumah turun. Namun kini, Hong Kong menjelma menjadi tempat paling mahal di dunia untuk membeli rumah dan menyewa kantor.
Jika kontrak ekonomi Hong Kong merupakan konsekuensi dari krisis utang Eropa, menurut analis dari Bank of America Corp’s Merrill Lynch & Co, Raymond Ngai, bisa membuat harga rumah jatuh sebesar 40 persen. (NJB)