"Kenaikan Harga Properti di 2013 Tak Setinggi 2012"

Nur Januarita Benu - Okezone
Rabu, 16 Januari 2013 16:28 wib
Ilustrasi, Sumber: wikipedia

JAKARTA - Melihat performa positif yang ditunjukkan oleh pasar properti di Tanah Air sepanjang 2012 lalu, banyak pihak yang optimistis masa keemasan tersebut akan berlanjut di tahun ini. Apalagi didukung dengan perekonomian nasional yang terus tumbuh membaik. 

Menyorot hal ini, Wakil Direktur Utama PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) Indra Wijaya mengemukakan, kenaikan harga properti diproyeksikan masih akan naik di tahun ini, namun tidak setinggi tahun lalu.

"Kenaikan ada, namun pertumbuhannya (growth) tidak terlal tinggi seperti tahun lalu. Kemungkinan naiknya berkisar 15-20 persen," ujar Indra saat jumpa media di Central Park, Jakarta, Rabu (16/1/2013).

Selain itu, Indra juga menyampaikan analisisnya berdasarkan kenaikan harga tanah di sejumlah lokasi yang termasuk primer, utamanya di Jakarta. Dia mencontohkan, di wilayah central business district (CBD) atau pusat kota Jakarta, ada pengembang yang sebelumnya menjual produk hunian vertikalnya senilai Rp20 juta per meter persegi (m2), di 2012 lalu telah menaikkan harganya menjadi Rp40 juta per m2.

"Kalau seperti ini kan artinya kenaikan dari harga tanahnya saja sudah 100 persen. Maka dari itu, tahun ini sepertinya pertumbuhannya sudah tidak setiggi tahun lalu. Sebab, jika harga produk properti terlalu tinggi, maka daya beli konsumen akan melemah," tegasnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, banyak faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan pasar properti domestik di tahun ini, satu di antaranya adalah menyangkut kebijakan pemerintah.

"Banyak proyek yang ingin dikembangkan pengembang, tapi pemerintah sebagai pemegang kendali dan regulasi juga terus mengeluarkan kebijakannya kan Untuk itu, kami harus ikut saja dan menyiapkan strategi marketing yang baik," ujarnya. 

Sementara berdasarkan riset konsultan properti Jones Lang LaSalle Indonesia, disebutkan bahwa pasar properti di Indonesia masih menunjukkan prospek positif. Hal ini pula yang mendorong investor internasional terus melirik pasar Indonesia sebagai salah satu tujuan utama investasi.

Chairman Jones Lang LaSalle Indonesia Lucy Rumantir berpendapat, kesempatan untuk menarik investor asing tersebut harusnya dibarengi dengan pembenahan infrastruktur, utamanya di Jakarta yang merupakan daerah Ibu Kota.

"Salah satu konsep yang bisa diadopsi oleh DKI termasuk para pengembang adalah mengembangkan proyek yang berorientasi kepada sektor transportasi atau transit oriented development (TOD). Sebab, selain mengatasi masalah kemacetan, pengembangan TOD jga bisa mengangkat nilai properti dan bisa memberikan imbal balik investasi jangka panjang yang cukup besar," papar Lucy. (nia)


Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Facebook Comment List

Beri komentar

BACA JUGA ยป